Kerinduan saat Pandemi

Gambar dari Dribbble

Jadi, akhir-akhir ini aku sedang dilanda kerinduan. Bukan rindu sama orang sih. Tapi aku rindu sama salah satu makanan yang terkenal enak di Jember. Yep! Nama makanannya adalah seblak. Seblak paling enak yang pernah aku coba selama di Jember menurutku adalah seblak dari The Preanger. The Preanger ini semacam warung makanan khas Bandung. Mereka tidak hanya menjual seblak. Beberapa makanan yang laris dibeli pelanggan The Preanger adalah mie gondang monah, bakso aci, ayam geprek, dan lain-lain. Entahlah kenapa tiba-tiba aku kangen seblak dari The Preanger

Kerinduan ini sempat aku obati dengan coba-coba beli seblak di Tulungagung. Random banget kemarin pilihnya. Hanya berbekal aplikasi Grab dan mengandalkan rating. Ternyata pas dieksekusi beli, seblaknya tidak seenak seblak yang aku rindukan dong. Hiks hiks. Agak kecewa sih. Tapi tetap habis kok. Hanya saja, rasanya memang masih kalah enak dengan seblak yang aku rindukan.

Ternyata, The Preanger punya inovasi dalam menjual beberapa produk mereka saat pandemi. Hal ini wajar dilakukan mengingat sudah hampir 2 bulan mahasiswa pulang kampung. Artinya kemungkinan besar pelanggan The Preanger berkurang cukup drastis karena warung ini memang lebih populer di kalangan mahasiswa. Akhirnya, mereka mengeluarkan inovasi berupa menjual makanan secara online. Makanannya semacam dikeringkan. Bisa dibilang The Preanger menginovasi makanan yang biasa mereka jual dalam bentuk makanan instan. Makanan instan ini cukup untuk mengobati kerinduan bagi pelanggan mereka yang berada di luar kota. Mereka pun membuat pesanan secara same order alias makanan instan dibuat ketika ada pesanan untuk menjaga kesegaran makanan.

Jadi, The Preanger membuat tiga menu makanan instan yaitu seblak, mie gondang monah, dan bakso aci. Ada yang porsi kecil dan porsi besar. Aku kemarin membeli satu seblak porsi besar harga Rp20.000,- dan satu bakso aci porsi kecil harga Rp11.000,- via Shoope. Awalnya cuma pengen beli satu porsi kecil tapi tergoda sama potongan ongkos kirim kalau beli minimal Rp30.000,-. Akhirnya aku tergoda dengan promo potongan ongkir juga.

Pesanan yang aku tunggu akhirnya datang juga ketika H-1 lebaran. Seblaknya yang tidak sesuai ekspetasi. Krupuknya ada empat macam dan ada berbagai macam toping yang dikeringkan juga. Kirain berupa krupuk dengan bentuk yang sama ketika beli langsung sama bumbu doang. Aku aja yang tidak benar-benar membaca deskripsi. Berbeda dengan seblak, bakso aci instan terdiri dari bakso, sukro,

Aku langsung mengeksekusi seblak. Hasilnya ternyata benar-benar diluar ekspetasi. Porsinya besar sampai-sampai gak bisa aku habisin sendiri. Kalau bakso aci rasanya cukup enak. Mungkin karena porsinya kecil jadi terasa lebih cukup untuk dimakan dibandingkan dengan porsi besar. Tapi secara keseluruhan semuanya enak sih. Sayang benar-benar kurang pedes. Tidak sesuai dengan ekspetasi pedas yang aku inginkan. Hehe.

Aku hanya menyesal kenapa beli seblak porsi besar. Aku kira bahan-bahannya sama dengan seblak yang dibeli dan dimasak langsung di sana. Seharusnya untuk pertama kali beli online itu jangan banyak-banyak dulu seperti beli bakso aci porsi kecil. Dasar akunya yang suka beringasan dan tidak hati-hati beli online dan ujung-ujungnya menyesal. Buat pelajaran saja untuk kedepannya.

Seblak porsi gede sampai gak kuat habisin xP

Bencana Pandemi dan Pengiringnya

Gambar dari Halodoc.

Tahun 2020 menjadi tahun yang berbeda buatku jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di umur 22 tahun, aku sudah dihadapkan dengan bencana penyakit yang menyerang seluruh dunia bernama Covid-19. Rasanya gemas juga sih dengan statusku sebagai mahasiswa yang ternyata hanya sempat berkuliah selama tiga minggu di awal semester dan selebihnya sudah ada kebijakan belajar di rumah secara nasional. Akhirnya, aku yang awalnya berada di Jember memutuskan untuk pulang ke rumah dengan berbagai macam pertimbangan. Pertimbangan pertama adalah pulang sedini mungkin sebelum kebijakan karantina wilayah diberlakukan. Bisa gawat dong kalau sampai hari raya tidak bisa pulang ke rumah karena tidak bisa melewati daerah atau kota tertentu misalnya. Apalagi setelah melihat berbagai berita di internet dan riset-riset para ahli, bencana ini tidak akan berakhir pada waktu dekat. Ada yang mengatakan bahwa bencana akan berakhir pada bulan September atau bahkan sampai akhir tahun 2020 pun bencana pandemi ini belum selesai. Pertimbangan lainnya untuk segera pulang adalah mengenai biaya hidup. Kalau di rumah pasti lebih hemat dan terjamin makannya karena tidak memikirkan soal makan. Berbeda ketika di kota orang karena harus mengatur uang dan memikirkan pengeluaran sedangkan tugas kuliah tetap jalan. Sudah kebiasaan kalau terlalu asyik kuliah sampai lupa untuk memikirkan kondisi diri terutama soal kapan makan. Hehe.

Ternyata, tahun 2020 tidak melulu diwarnai dengan bencana Covid-19. Tahun ini diwarnai pula dengan berbagai macam berita yang sangat nyeleneh. Berawal dari penanganan pemerintah pada bencana pandemi ini sudah membuat rakyat bingung lalu diiringi dengan tingkah konyol beberapa orang yang ingin mencari popularitas. Apa kita harus berbuat bodoh dan memalukan agar menjadi terkenal? Segitukah apa yang kita lakukan demi uang dan popularitas? Selain itu, beberapa berita lain juga semakin membuatku tidak habis pikir tentang negeri ini yaitu tentang orang-orang luar negeri yang diserang oleh netizen Indonesia dengan alasan-alasan yang tidak relevan. Pada titik itu, aku sempat merenung beberapa saat. Apakah benar orang Indonesia itu masih belum siap bersosial media?

Berikut daftar hal-hal konyol yang berseliweran di internet sebagai bumbu selama pandemi di Indonesia berdasarkan yang aku tahu

  1. Lelang keperawanan dengan harga dimulai dari 2 miliar lalu orangnya klarifikasi
  2. Para petinggi pemerintahan memberikan kebijakan yang berbeda-beda dalam penanganan pandemi sehingga masyarakat jadi bingung
  3. Orang nyablak yang mengaku introvert tapi bicara sembarangan.
  4. Diskusi teori konspirasi yang dilakukan oleh orang terkenal sehingga banyak followersnya yang terpengaruh
  5. Prank membatalkan puasa agar dapat 100 juta
  6. Prank bantuan box sembako tapi diisi batu
  7. Kontroversi perbedaan definisi mudik dan pulang kampung dari Bapak Presiden
  8. Artis tiktok Filipina yang diserang oleh netizen Indonesia
  9. Pangeran Brunei yang diserang oleh netizen Indonesia
  10. Masyarakat yang beringas mengunjungi tempat-tempat keramaian (pusat perbelanjaan) setelah kurang lebih dua bulan dikarantina
  11. Apa lagi ya? Pasti ada yang kelewat

Betapa lucunya negeriku ini. Hehe

Resensi Buku Kami (bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen

Resensi Novel Kami (bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen

Kami (bukan) Sarjana Kertas bercerita tentang tujuh orang sebagai mahasiswa baru di Universitas Dwi Eka Laksana atau disingkat UDEL. Awalnya, mahasiswa baru di kampus UDEL dibentuk kelompok yang terdiri dari tujuh orang. Kelompok ini memiliki satu dosen pendamping dan harus bertahan hingga lulus. Tujuan dibentuknya kelompok ini adalah supaya mahasiswa dapat saling mengenal dan saling mengingatkan tentang mimpi-mimpi mereka setelah lulus dari kampus UDEL.

Terbentuklah sebuah kelompok yang terdiri dari Ogi, Randi, Arko, Sania, Juwisa, Gala dan Cath. Mereka berasal dari berbagai macam fakultas yang berbeda. Ogi, Randi dan Arko berasal dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Juwisa dan Sania berasal dari Fakultas Ekonomi. Sedangkan Gala berasal dari Fakultas Teknik. Cath sendiri tidak terlalu lama belajar di kampus UDEL karena memilih melanjutkan studinya di negara Belanda. Kelompok kecil mereka dibimbing oleh Bu Lira, dosen lulusan S3 Rekayasa Genetika Hewan di Amerika Serikat.

Ogi adalah anak paling malas di antara semua orang di kelompoknya. Alasan Ogi mau berkuliah di kampus UDEL adalah karena paksaan Randi Jauhari alias Ranjau. Sahabatnya itu berkali-kali menyuruhnya untuk kuliah untuk masa depan yang lebih baik di masa depan. Akhirnya, Ogi mau menerima ajakan Ranjau. Di hari pertama kuliah, mereka berdua berkenalan dengan Arko, Sania, Juwisa, dan Cath. Di hari itu juga, dosen pendamping mereka, Bu Lira, datang dengan membawa banyak pizza dan dua koper hitam besar-besar. Awalnya, Bu Lira memberikan pizza tersebut kepada seluruh mahasiswa baru di ruangan. Di tengah-tengah lahapnya mahasiswa menikmati pizza, tiba-tiba Bu Lira bertanya dengan pertanyaan yang mengejutkan.

“Siapa yang merasa paling pintar di sini? Silahkan angkat tangan!”

Tidak ada satu pun mahasiswa yang berani untuk angkat tangan. Mereka hanya kebingungan dan berhenti menikmati pizza pemberian Bu Lira.

“Kalau begitu, siapa yang merasa paling bodoh di sini? Silahkan angkat tangan!”

Tanpa pikir panjang, Ogi langsung angkat tangan. Ogi mengakui bahwa dirinya adalah orang yang mungkin paling bodoh di ruangan ini. Selain itu, ia juga sebenarnya tidak terlalu niat untuk kuliah jika tidak dipaksa Ranjau. Apalagi setelah beberapa hari menjalani kuliah yang ternyata terlalu berat bagi Ogi. Ia mengira jurusan komunikasi hanya sekadar ngomong tapi ternyata lebih dari itu. Akhirnya, Bu Lira menyuruh Ogi untuk keluar. Ogi pun keluar dari ruangan tersebut. Di saat Ogi keluar, Bu Lira juga ikut keluar dan menggembok pintu ruangan tersebut. Keanehan terjadi saat seluruh mahasiswa di ruangan tersebut berteriak ketakutan. Ternyata, di dalam dua koper Bu Lira, keluar tikus-tikus besar yang langsung menyerang seluruh mahasiswa yang sedang menikmati pizza. Rupanya kejadian ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Bu Lira sebagai bentuk perkenalan bagi mahasiswa baru di kampus UDEL. Selain itu, Bu Lira masih sempat menikmati kejadian tersebut di balik jendela bersama Ogi sembari mengeluarkan sumpah serapah kepada seluruh mahasiswa yang merasa pintar.

“Coba kalian yang merasa pintar hadapi tikus-tikus itu! Dunia setelah kalian lulus akan lebih menjijikkan daripada tikus-tikus itu.” serapah Bu Lira

Ogi sendiri masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di balik jendela ruangan bersama Bu Lira.

Pendapat Pribadi

Novel ini cukup menarik bagi saya karena menceritakan tentang kehidupan mahasiswa yang selaras dengan apa yang saya alami saat ini. Terlebih lagi adalah latar belakang novel ini yang mengangkat kisah segelintir orang yang berjuang untuk masa depan meskipun terpaksa berkuliah di kampus swasta serta tidak tersohor namanya seperti kampus UDEL. Novel ini menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan selepas sarjana adalah kehidupan yang lebih menjijikkan daripada tikus-tikus peliharaan Bu Lira yang selalu dipakai ketika perkenalan dengan mahasiswa baru. Ibarat kata kuliah adalah satu dari sekian banyak batu loncatan untuk menghadapi kerasnya kehidupan di masa mendatang.

Oiya, saya membaca novel ini secara gratis melalui aplikasi Google Books di Android. Tempo hari, J.S. Khairen selaku penulis membagikan ebook secara gratis untuk dibaca selama masa karantina covid-19 kemarin. Hal ini berhubungan dengan diliburkannya beberapa sektor yang memicu kerumunan masyarakat demi mencegah penularan covid-19 seperti lingkungan kampus saya. Terimakasih J.S. Khairen atas bacaan gratisnya. Lumayan untuk mengisi waktu luang. Hehe.

Prestasi Parasite yang Memenangkan Piala Oscar hingga Sekelumit Kekaguman dengan Korea Selatan

Prestasi Parasite sebagai pemenang piala Oscar dan Sedikit Kekaguman mengenai Korea Selatan

Beberapa hari yang lalu, dunia hiburan internasional dihebohkan dengan prestasi yang diraih Korea Selatan. Minggu, 9 Februari 2020, film Parasite berhasil meraih 4 piala Oscar sekaligus sebagai film terbaik, internasional feature terbaik, skenario asli terbaik, dan sutradara terbaik. Film Parasite mengukir sejarah sebagai film berbahasa asing (selain berbahasa inggris) yang memenangkan piala Oscar. Keren banget. Singkatnya, Parasite bercerita mengenai keluarga miskin yang hidup seperti “parasit” di keluarga kaya raya. Kisah yang diangkat oleh film ini cukup relate dengan kehidupan sehari-hari. Sebelum Oscar, Parasite telah memenangkan berbagai macam penghargaan lain seperti Palme d’Or, Academy of Film and Television Arts (BAFTA), dan lain-lain.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Hal lucu terjadi ketika orang-orang Amerika atau mereka yang terbiasa berbahasa inggris merasa kesulitan ketika melihat film Parasite. Banyak orang memberikan keluhan mereka pada review Amazon bahwa mereka tidak menyukai subtitle. Orang Indonesia pun menganggapi hal tersebut dengan lelucon bahwa orang indonesia sendiri memiliki kemampuan dalam membaca subtitle dan mengerjakan hal lain secara bersamaan.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Menurut pandangan pribadi saya, Korea Selatan benar-benar mampu mengguncang dunia dengan prestasi-prestasinya beberapa tahun terakhir. Entah dari segi film, musik, drama, dan lain-lain. Mereka pun tidak menggunakan bahasa inggris untuk dapat menembus pasar internasional. Mereka cukup bertahan dengan budayanya sebagai orang Korea dan berbahasa korea. Hal ini yang mestinya patut diacungi jempol karena mereka tidak mengalah dengan berkiblat pada budaya barat. Mereka tetap menjadi diri mereka sendiri hingga mampu dikenal oleh seluruh dunia. Bahkan, orang-orang dari seluruh dunia mulai tertarik untuk mengenal Korea Selatan dan segala adat budayanya. Benar-benar keren.

Semoga kelak negara kita bisa seperti Korea Selatan yang mampu mempertahankan jati dirinya namun tetap mampu berprestasi.

Resensi Novel Surya, Mentari dan Rembulan karya Sili Suli

Resensi Novel Surya, Mentari dan Rembulan karya Sili Suli

Gambar dari Goodreads.

Sinopsis Novel berjudul Surya, Mentari dan Rembulan

            Novel dengan judul Surya, Mentari dan Rembulan adalah novel yang bercerita tentang kehidupan masyarakat asli tanah Toraja. Kala itu, di suatu kampung di kaki Gunung Napo, budaya leluhur mereka sebagai orang Toraja masih mereka pertahankan. Contohnya adalah seperti gotong royong, musyawarah untuk menyelesaikan suatu masalah, dan lain-lain. Utamanya adalah peraturan adat yang berlaku bagi kampung Waka’ bahwa jika ada seseorang yang memiliki kepentingan di kampung, maka orang tersebut harus memetik buah tomendoyang yang pohonnya berada di Gunung Napo. Selain itu, orang tersebut harus menanam bibit pohon dan melepaskan satu bibit ikan. Masyarakat kampung Waka’ memiliki kepercayaan bahwa buah tomendoyang dapat menunjukkan isi hati seseorang.

            Surya dan Mentari adalah pemuda pemudi kasmaran yang tinggal di kampung Waka’. Budaya Toraja mengajarkan mereka untuk tetap menjaga etika meskipun mereka saling jatuh cinta. Kisah cinta mereka begitu indah seperti kisah cinta yang diharapkan manusia pada umumnya. Keadaan mereka yang saling jatuh cinta juga diketahui oleh hampir seluruh warga kampung terlebih keluarga dari masing-masing pihak. Tak heran jika Surya pun bisa akrab dengan Ne’ Ari, ayah Mentari. Seiring berjalannya waktu, kisah cinta Surya dan Mentari akhirnya diuji juga.

            Surya bersama beberapa pemuda kampung lain mendapatkan amanah untuk menyelamatkan Matallo, anak kedua Ne’ Ari sekaligus adik laki-laki Mentari yang diculik oleh sekelompok orang tak dikenal berjumlah enam orang. Penculikan terjadi ketika Ne’ Ari dan Matallo melakukan perjalanan dari Singki ke Lolai. Sebenarnya, Ne’ Ari sudah menghalau sekelompok orang tak dikenal tersebut dan menyuruh Matallo untuk segera melarikan diri dengan kembali ke Singki untuk menyelamatkan diri. Ne’ Ari tidak mau mengambil risiko lebih karena menyadari anak bungsunya masih belum dibekali kemampuan bela diri. Karena kalah jumlah, Ne’ Ari tidak bisa menghalau dua orang yang mengejar Matallo yang berlari ke arah Singki. Namun, ketika Ne’ Ari sudah berhasil mengalahkan musuh dan kembali ke Singki, ternyata Matallo tidak pernah kembali ke Singki seperti apa yang ia harapkan.

            Surya dan kelima orang temannya mulai melakukan pengamatan pada titik-titik yang diduga terdapat petunjuk mengenai penculik Matallo. Mereka berbagi tugas dengan menyamar menjadi pedagang tikar dan penjual tuak. Surya sendiri beserta seorang temannya bertugas untuk memantau dan menguntit bila bertemu dengan orang-orang yang alisnya tercukur. Sebelumnya, Ne’ Ari sudah mencukur alis orang-orang tak dikenal tersebut setelah mengalahkan mereka untuk mengantisipasi hal buruk terjadi.  

            Petunjuk demi petunjuk sudah berhasil diketahui oleh Surya dan teman-temannya. Mereka melakukan perjalanan panjang untuk mengikuti para penculik tersebut. Tanpa terasa, perjalanan tersebut menuntun mereka untuk berlayar ke pulau Jawa. Rupanya, Matallo bernasib menjadi budak dan dijual kepada Raden Boedijono, seorang juragan batik asal Surakarta. Ketika Surya dan kawan-kawannya sudah berhasil bertemu Raden Boedijono, Matallo tidak lantas dengan mudahnya diselamatkan. Upaya membeli Matallo sebagai budak dari Raden Boedijono tidak berhasil karena beliau sudah berjanji untuk memberikan Matallo kepada Koh Langgeng.

            Di tengah kebuntuan dalam upaya menyelamatkan Matallo, Surya bertemu dengan Rembulan. Berkat Rembulan dan ayahnya yang seorang bangsawan, Raden Boedijono dapat membatalkan perjanjiannya untuk memberikan Matallo ke Koh Langgeng dengan catatan Surya harus menggantikan Matallo sebagai porter bagi Koh Langgeng ke Nepal. Tujuan Koh Langgeng ke Nepal sendiri adalah untuk mewujudkan nazarnya untuk membawa abu jenazah kakeknya ke kaki Gunung Sagarmatha. Bantuan Rembulan yang sedemikian rupa kepada Rembulan bukan tanpa alasan. Rupanya Rembulan menyukai Surya. Hal tersebut nampak jelas terlihat dari perilakunya kepada Surya. Lambat laun, hati Surya pun berdesir ketika menerima tingkah laku Rembulan kepadanya. Terlebih lagi, Rembulan memiliki paras ayu khas perempuan jawa yang berkulit putih langsat. 

Pandangan Pribadi mengenai Novel Surya, Mentari dan Rembulan.

            Novel ini bisa dibilang mampu menggambarkan sekelumit suasana dan kebudayaan di tanah Toraja pada masa lalu. Terlebih mengenai kepercayaan masyarakat kampung Waka’ terhadap buah tomendoyang. Kisah cinta yang dikisahkan juga cukup menyegarkan novel ini utamanya pada saat perasaan cinta diuji ketika Surya dan Mentari sedang berjauhan sekaligus Surya dekat dengan gadis baik hati bernama Rembulan. Kisah klasik seperti penculikan, perbudakan, perjudian, dan tradisi tanah Toraja seperti mayat berjalan serta adu kerbau menjadi komponen tersendiri bagi pembaca dalam mengenal sedikit kehidupan tanah Toraja di masa lalu.

Biodata Buku

Judul               : Surya, Mentari dan Rembulan

Penulis            : Sili Suli

Penerbit           : Arti Bumi Intaran

Tebal halaman : 469 halaman

Cerita Baru dari Manga Death Note One-Shot

Cerita Baru Anime Death Note One-Shot

Setelah 14 tahun berlalu, manga legendaris berjudul Death Note muncul kembali dengan membawa cerita yang cukup berbeda dari manga, serial anime, bahkan film-filmnya. Death Note One Shot ini bercerita tentang Ryuk yang kembali ke dunia manusia untuk mencari manusia yang pantas untuk memegang kendali Death Note serta ingin memakan apel dari dunia manusia.

Akhirnya, Ryuk menemui Tanaka Minoru dengan menjatuhkan Death Note dengan sengaja dari langit. Awalnya, Minoru sedang duduk sendirian di ayunan. Tiba-tiba, kepalanya tertimpa sebuah buku hitam. Ternyata buku tersebut adalah Death Note. Ryuk langsung menyapa Minoru. Awalnya, Minoru kaget bukan main melihat wujud Ryuk. Ryuk pun menyapa Minoru dan mengatakan bahwa Minoru terkenal pintar.

Sayangnya, Minoru tidak ingin menggunakan Death Note tersebut. Minoru pun menemukan ide di luar dugaan yaitu menjual Death Note. Minoru benar-benar menjual Death Note. Minoru menyadari bahwa penggunaan internet mudah dilacak sehingga ia mengumumkan penjualan Death Note dengan bantuan Ryuk dalam berbahasa inggris. Penjualan Death Note dilakukan dengan cara pelelangan di internet. Pelelang diharuskan ngetwit nominal lelang dalam dolar di Twitter dengan hastag #POWEROFKIRA.

Pengumuman ini menggemparkan seluruh dunia. Kabar penjualan Death Note sampai ke telinga para pemimpin negara seperti China dan Amerika Serikat. Mereka berlomba untuk melelang Death Note dengan harga tertinggi. Dua negara besar tersebut juga mengklaim bahwa Death Note akan digunakan untuk perdamaian dunia jika mereka berhasil membelinya. Death Note pun benar-benar terjual dengan cara transaksi yang mengejutkan semua pihak. Penerus L sempat menganalisa rencana Kira baru ini. Ia ingin mengetahui siapa Kira masa kini serta rencananya yaitu menjual Death Note.

Death Note One Shot ini cukup keren ceritanya. Alur cerita begitu mengejutkan. Siapa sangka bahwa orang yang dipilih Ryuk untuk menggunakan Death Note justru benar-benar tidak ingin menggunakannya. Minoru hanya ingin mengambil keuntungan dari Death Note tanpa menanggung risiko kematian akibat menggunakan Death Note.

Manga Death Note One-Shot ini juga menghadirkan secara perdana Presiden Amerika Serikat. Dari bentuk penggambaran karakter, presiden yang tergambar sekilas persis seperti Donal Trump. Kemunculan Donal Trump di manga legendaris Death Note memberikan kelucuan tersendiri. Sayangnya cerita Death Note One-Shot terbaru ini langsung selesai sehingga tidak akan ada serial kelanjutannya.

Saya tidak akan spoiler terlalu jauh. Cerita Death Note One-Shot ini terlalu sayang untuk dilewatkan dengan hanya mengandalkan spoiler. Silahkan baca Death Note One-Shot secara gratis di Mangaplus.

Kisah Tanah Jawa – Pencarian Sahabat yang Hilang

Review Singkat mengenai Webseries Kisah Tanah Jawa, Merapi

31 Oktober 2019 kemarin jagad Iflix merilis webseries yang sudah mereka janjikan kepada jutaan penggemar Kisah Tanah Jawa. Webseries tersebut berjudul Kisah Tanah Jawa, Merapi. Webseries ini merupakan film bersambung bergenre horor dengan pengambilan video yang bersifat semi dokumenter.

Webseries ini bercerita mengenai dua orang bernama Andi dan Rabon yang ingin mencari keberadaan seorang sahabat mereka, Rio, yang hilang di Gunung Merapi. Awalnya, Rio hilang bersama dua orang lainnya ketika pendakian. Setelah beberapa waktu pencarian, dua orang yang hilang bersama Rio berhasil ditemukan sedangkan Rio sendiri tidak berhasil ditemukan. Rio sudah dua bulan dinyatakan hilang hingga tim SAR sudah lepas tangan untuk mencari Rio. Jasad Rio yang tidak pernah ditemukan ini yang membuat Andi dan Rabon berkeyakinan bahwa Rio masih hidup. Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk melakukan pencarian sendiri terhadap Rio. Minimal mereka dapat menemukan jasad Rio jika memang Rio sudah meninggal.

Andi dan Babon nekad melakukan ekspedisi pencarian Rio di Gunung Merapi. Sayang, mereka melakukan ekspedisi tersebut di saat bulan purnama yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai waktu ketika Merapi ndue gawe. Alhasil, Andi dan Babon kesulitan dalam mencari pemandu untuk mendaki Gunung Merapi yang berasal dari penduduk sekitar Merapi. Semua pemandu pendakian menolak permintaan tolong Andi dan Babon untuk melakukan pendakian. Akhirnya mereka tidak sengaja bertemu dengan orang yang menawarkan diri untuk memandu pendakian di Gunung Merapi sampai puncak. Ternyata, Andi dan Babon sudah melakukan kesalahan fatal. Dari awal perjalanan, Andi dan Babon seharusnya tidak mencari keberadaan Rio yang masih dinyatakan hilang di Gunung Merapi.

Ekspedisi pencarian Rio mereka abadikan dalam video dokumenter. Banyak hal yang ceritakan oleh Andi dan Babon pada video dokumenter tersebut. Beberapa kisah yang disembunyikan masing-masing dari mereka lambat laun terungkap. Antara Andi dan Babon pun membagikan cerita ekspedisi pencarian Rio di Gunung Merapi dengan sudut pandang masing-masing.

Webseries Kisah Tanah Jawa ini dengar-dengar diambil dari kisah nyata yang benar-benar telah terjadi. Kisah Tanah Jawa mendapatkan cerita dari narasumber yang sudah lama memendam ceritanya. Cerita mistis mengenai alasan mengapa Rio yang hilang tidak pernah ditemukan jasadnya. Ternyata, Rio memang tidak ingin pulang dari Gunung Merapi.

Webseries Kisah Tanah Jawa ini bisa menjadi gebrakan baru bagi industri perfilman di Indonesia agar menciptakan inovasi dalam menyajikan hiburan kepada masyarakat. Contohnya adalah film pendek atau webseries bergenre horor dengan pengambilan gambar berkonsep semi dokumenter.

Joker – Lelahnya menjadi Orang Baik

Film Joker (2019) bercerita tentang seseorang yang bekerja sebagai badut bernama Arthur. Hidupnya sudah susah sedari awal. Ia tidak berasal dari ekonomi mapan. Pun ia juga harus mengurus ibunya yang sudah semakin menua. Kondisi seperti ini diperparah dengan penyakit psikologis Arthur yang tidak bisa berhenti tertawa ketika mengalami gejolak perasaan yang hebat.

Arthur menyimpan cita-cita yang besar. Ia ingin menjadi komedian dan menghibur banyak orang. Ia menyukai Murray, seorang komedian terkenal. Berprofesi sebagai badut adalah langkah awalnya dalam menghibur orang lain. Arthur sangat mencintai pekerjaannya sebagai badut hingga pada suatu hari ia dipecat oleh atasannya karena alasan tertentu. Kesedihan Arthur sebenarnya tidak berawal dari sini saja. Ia selalu mendapat perlakukan tidak menyenangkan (bullying) ketika menjalani profesinya sebagai badut.

Suatu hari, di tengah perjalanan pulang setelah mendapat kabar bahwa ia dipecat dari prosesi badut, Arthur sedang duduk di kereta sendirian. Tanpa sengaja, ia duduk di gerbong bersama tiga orang laki-laki berpakaian rapi yang sedang menggoda seorang gadis yang tengah duduk sendirian di gerbong tersebut. Saat itu Arthur melakukan perjalanan malam ketika kereta sedang sepi. Perasaan yang kalut pasca dipecat dari pekerjaannya membuat Arthur tiba-tiba tertawa tanpa kendali. Arthur ketakutan karena penyakitnya kambuh di saat yang tidak tepat. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan tawanya namun tawanya tidak bisa berhenti. Tiga orang laki-laki yang ada di gerbong tersebut merasa diejek. Arthur benar-benar tidak bisa menghentikan tawanya hingga tiga orang laki-laki tersebut menghajar Arthur hingga Arthur terjatuh tak berdaya. Di tengah kondisi tersebut, secara refleks Arthur mengeluarkan pistol dan menembak dua orang yang menghajarnya. Satu orang masih sempat melarikan meski kakinya sudah lebih dulu ditembak Arthur. Setelah melarikan diri dengan kaki pincang dan berdarah-darah. Arthur akhirnya menembak orang laki-laki terakhir yang tadi ikut menghajarnya di dalam gerbong.

Malam itu, Arthur dengan riasan badutnya, membunuh tiga orang dengan pistol pemberian temannya di tempat kerja. Temannya menasihati agar jangan diam ketika disakiti dan berani bertindak sesuatu. Tapi, justru teman tersebut berkhianat.

Film ini mampu menyajikan cerita yang dalam mengenai kesulitan hidup yang dilalui oleh seseorang baik dari segi ekonomi dan sosial. Hal tersebut diperparah dengan penyakit psikologis yang dialami Arthur dan tidak lazim dikenal oleh masyarakat luas yaitu tiba-tiba tertawa dan tidak bisa berhenti ketika perasaannya sedang bergejolak. Berbagai macam olokan dan penganiayaan yang dialami Arthur membuat dirinya bosan menjadi orang baik dan selalu diam ketika disakiti. Saat itulah karakter Joker muncul ketika orang baik selalu disakiti karena ketidakberdayaannya untuk melawan.

Koin Webtoon dan Analisa Profit

Pada suatu malam, di malam minggu, saya sedang mengalami kegabutan yang luar biasa. Setelah buka-tutup berbagai macam aplikasi di smartphone, saya berhenti pada Webtoon. Kebetulan, pada malam minggu, berbagai macam serial Webtoon favorit saya update. Setelah khatam membaca semua serial favorit, saya iseng membuka menu More pada kanan bawah layar. Menu yang saya buka ternyata berisi koin Webtoon

Setelah kalap memakai koin untuk membuka episode berbayar di serial favorit

Seingat saya, koin Webtoon dulunya hanya dapat dibeli dengan pembayaran melalu Google Play. Tapi untuk sekarang, pembayaran dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu pulsa Telkomsel, kartu kredit, bahkan yang terbaru adalah dengan Gopay yang sedang promosi dengan cashback 100% hingga 9 September 2019. Karena sedang iseng, saya menggunakan metode pembayaran dengan pulsa Telkomsel. Saya membeli 100 koin Webtoon dengan harga Rp15000,- dan ternyata harga tersebut belum termasuk pajak. Alhasil, pulsa saya terpotong Rp16800,- pada transaksi ini.

Untuk pembelian koin Webtoon ini cukup gampang. Tinggal klik pilihan koin beserta harganya dan pilihan metoda pembayaran akan muncul. Login akun Google dibutuhkan ketika menggunakan pembayaran dengan pulsa Telkomsel.

Setelah mendapatkan 100 koin Webtoon, saya langsung menggunakannya untuk membaca serial Suddenly I Became A Princess dan The Secret of Angel.

Koin Webtoon ini rupanya memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan keuntungan pada Webtoon berdasarkan strategi pemasaran mereka. Webtoon sendiri menyediakan beberapa episode di atas episode yang resmi dirilis. Episode episode tersebut ditampilkan secara tumbnail dan ada harga tertentu jika ingin membacanta. Misal 100 koin seharga Rp15000,- , maka 10 koin sama dengan harga Rp150,-. Seandainya ada 1000 saja pembaca Webtoon yang penasaran dan membeli episode yang belum dirilis secara resmi, maka Webtoon dapat mengantongi 1000 x Rp150,- = Rp150.000,-. Webtoon merupakan pangsa komik online yang cukup menjanjikan bagi creator yang berkontribusi (mungkin). Ambil contoh serial The Secret of Angel yang jumlah like-nya sendiri adalah lebih dari 99.999 kali. Otomatis pembaca setia serial ini pasti banyak sekali. Jika misal ada 100.000 pembaca yg ingin membeli episode yang belum dirilis secara resmi karena penasaran dengan harga 10 koin, maka Webtoon dapat mengantongi sekitar 100.000 x Rp150,- = Rp15.000.000,- . Itu masih contoh satu serial komik. Masih banyak lagi serial webtoon favorit dengan harga episode unreleased sekitar 10 hingga 12 koin.

Pergeseran Makna Kata

Salah Tangkap Makna

Gambar dari Netflix

Saya sangat mencintai bahasa daerah saya yaitu bahasa Jawa. Selain sebagai penutur bahasa Indonesia untuk kebutuhan pendidikan, saya lebih sering menggunakan bahasa Jawa karena dianggap lebih mengekspresikan apa yang saya rasakan. Istilah lainnya, dengan bahasa Jawa, apa yang saya sampaikan bisa lebih dalam lagi untuk diterima terutama oleh penutur bahasa Jawa lainnya. Tapi, terkadang bahasa daerah tidak bisa diartikan dengan tepat ke dalam bahasa Indonesia seperti contoh kecil ketika Raditya Dika membawa konten kisah viral KKN Desa Penari pada channel Youtube-nya. Teman di samping Raditya Dika yang kala itu menjadi story teller KKN Desa Penari menerjemahkan salah satu percakapan dalam dalam bahasa Jawa dengan sebutan “anak cantik” dan “anak bagus”. Padahal dalam bahasa Jawa, penggunaan kata “cah ayu” untuk perempuan atau “cah bagus” untuk laki-laki tidak bisa serta merta diterjemahkan secara demikian dalam bahasa Indonesia. Saya sebagai penutur bahasa Jawa agak geli mendengar kalimat terjemah dari “cah ayu” tersebut karena pada dasarnya, kalimat-kalimat tersebut hanya berupa sapaan sekelas “hei”, “halo”, dan lain-lain.

Lanjutkan membaca “Pergeseran Makna Kata”

Belajar Sedikit Lebih Peka

Pagi hari, sekitar pukul setengah 10, saya sedang bersantai setelah sebelumnya menikmati tayangan-tayangan Youtube tentang horror story ketika mendaki gunung dari channelnya Dzawin. Handphone saya tinggal dalam keadaan sedang dicharger. Sebenarnya, saya berencana untuk one day without handphone hari ini ketika ternyata ada beberapa misscall dan chat yang meneror handphone saya. Ternyata, grup official pondok di Whatsapp sedang sedikit ramai dengan chat dari Bapak Yai.

Cerita bermula saat saya mendapat tugas untuk mengurus data seluruh santri. Tugasnya cukup mudah yaitu cukup dengan mengumpulkan data seluruh santri. Agak ribet sedikit karena ada beberapa ejaan nama yang salah. Setelah semua sudah selesai, saya diminta untuk mengirimkan data tersebut ke email salah seorang kenalan Bapak Yai di Jakarta untuk kepentingan tertentu. Saya mengirimkan data berupa file dengan format Word pada saat itu.

Hari ini, ternyata Bapak Yai sudah menghebohkan sedikit penghuni grup Whatsapp santri. Beliau memberitahu bahwa kenalannya dari Jakarta tersebut meminta dikirim ulang data santri dalam file bentuk lain yaitu file dengan format Excel. Saya langsung sigap dan tanggap. Beruntungnya saya sudah dibekali dengan laptop Xiaomi 13’3 inch yang pemakaiannya lumayan kenceng untuk mengolah data-data seperti ini alias tidak lemot, ngelag, dan semacamnya. Tidak sampai 5 menit, saya sudah berhasil mengirimkan file format Excel yang diminta ke alamat email yang dituju.

Bapak Yai saya bukan berangkat dari zaman milenial. Beliau adalah pria paruh baya yang baru saja menikmati kecanggihan teknologi. Selain karena tuntutan zaman, profesi lain beliau sebagai dosen mengharuskan Bapak Yai untuk bisa mengakrabkan diri dengan laptop untuk masalah pekerjaan dan handphone sebagai komunikasi. Hemat saya, Bapak Yai tidak terlalu sering bermain handphone apalagi sampai berkirim pesan lewat chat. Jadi, terkadang di suatu kesempatan, ada beberapa kalimat yang Bapak Yai kirimkan lewat chat grup tidak langsung dipahami oleh santrinya. Entah itu karena singkatan suatu kata yang tidak dipahami atau kurang lebihnya tanda baca untuk kalimat. Maklum, Bapak Yai lebih mencintai ilmu dan seisinya dibanding berjam-jam melihat layar handphone. Bagi beliau, kitab-kitab yang berjajar di perpustakaan mininya lebih menyenangkan untuk didalami ketimbang mainan handphone dan stalking gak jelas ala anak milenial.

Hari ini, Bapak Yai saya mengirim pesan chat di grup seperti ini,

Saya pun segera membalas bahwa file yang diminta sudah dikirimkan. Tak lupa untuk membalas chat Bapak Yai di grup untuk mengonfirmasi bahwa saya sudah selesai mengirim file. Tapi, pada saat itu sebenarnya saya masih sempat berpikir. Bapak Yai sempat menulis kata “tks” pada chat beliau. Saya bingung apa arti dari kata tersebut. Saya sebagai santri takut jika ada kesalahpahaman di chat. Bisa jadi kata “tks” adalah singkatan dari suatu hal yang berpengaruh penting dalam pengiriman file. Otak saya masih berpikir keras untuk menemukan maksud Bapak Yai pada kata “tks” tersebut sebelum Bapak Yai membalas chat saya di grup,

Ealah, “tks” itu maksudnya Thanks toh. Kadung lekku mikir jeru. Hehe. Sebagai santri solehah, saya pun memberikan balasan yang baik dong.

Beginilah! Saya memang lebih menyukai obrolan langsung daripada sekadar via chat. Rawan terjadi kesalahpahaman. Kadang kalimat yang bermaksud santai tapi yang baca malah berpikir bahwa kalimat yang kita sampaikan mengandung kemarahan. Lebih nyaman ngobrol langsung sih sebenarnya. Kadang kalau lek gak srantan atau sedang capek ya pakai voice note ketika di ruang chat. Ngetik panjang-panjang kan capek. Apalagi kalau cuma di read doang. Idih!

Tak lupa saya update story baru atas keberhasilan saya menemukan kosakata baru di chat hari ini. Siapa tahu ada salah satu teman di Whatsapp yang belum tau arti kata yang baru saja saya temukan hari ini.

Kerecehan Idul Adha Tahun Ini

Setelah dua tahun tidak pernah pulang ketika Idul Adha, akhirnya saya berkesempatan untuk pulang juga setelah pondok pesantren memberikan jatah libur yang luar biasa banyak (bagi saya) yaitu sekitar 10 hari. Tahun-tahun sebelumnya, libur Idul Adha yang diberikan oleh pesantren hanya 3 hari. Dengan pertimbangan waktu, jarak dan biaya transportasi, saya lebih memilih untuk tetap di pondok dan melaksanakan solat Id di tanah rantau. Jika jatah libur bisa sampai seminggu, saya akan memikirkan ulang rencana untuk pulang.

Alhamdulillah! Akhirnya saya pulang juga. Awalnya saya memberi kabar ke Abah Ibuk melalui grup Whatsapp keluarga bahwa saya akan pulang. Saya ingin tahu respon mereka seperti apa. Ternyata mereka sangat senang kalau anaknya pulang. Maklum, karena saking jauhnya tempat rantau, anak gadis sulung mereka ini memang jarang sekali pulang. Bahkan, semester kuliah yang sedang saya tempuh dengan berapa kali saya pulang itu sama dan bisa digunakan sebagai titen-titenan. Misal, kalau saya sudah pulang empat kali, berarti kuliah saya sudah semester empat.

“Ndengaren to nduk kok libur suwe. Ya wes muleh ae” (Tumben liburnya lama, Nduk. Ya udah pulang aja) tulis Ibuk di grup Whatsapp.

“Muleh to nduk. Abah ki kuangen lo.” tulis Abah di grup Whatapp juga. Tak lupa dengan berbagai emot hati dan ekspresi untuk menggambarkan perasaan senang bercampur rindu.

Akhirnya, pada 10 Agustus 2019, saya berangkat menuju terminal sehabis solat subuh. Saya diantar oleh Mbak Risa, salah seorang teman di pesantren. Di tengah jalan, saya meminta Mbak Risa untuk mengantarkan saya ke salah satu minimarket 24 jam. Saya mau mengambil uang kiriman Ibuk kemarin malam karena disuruh bawa uang agak banyak. Biar tenang katanya.

“Emang minimarketnya buka?”, tanya mbak Risa

“Buka, Mbak. Lha wong itu minimarket 24 jam.”

“Ada ATM-nya ya?”

“Ada dong, Mbak”

Sesampainya di minimarket tersebut, saya masuk ke dalam minimarket dengan terheran-heran. Pasalnya saya tidak melihat orang sama sekali di dalam minimarket yang nyala terang benderang di tengah-tengah toko atau bangunan lain yang lampunya masih dimatikan. Saya langsung menuju ke mesin ATM. Ternyata Mbak Risa mengikuti saya dari belakang.

“Ya ampun Mbak. Ndek kene kok gak enek wong e.” (Ya ampun Mbak. Di sini kok gak ada orangnya)

“Mosok sih?”

“Biasane kan setiap masuk minimarket disambut.” Saya bermaksud guyon sebenarnya. Saya kira benar-benar tidak ada orang di dalam minimarket. Rapi tiba-tiba mas-mas pegawai minimarket tersebut muncul dari bawah meja kasir. Masnya terlihat agak salting namun tetep sok sibuk main hape.

Karena merasa tidak enak, saya langsung membeli makanan ringan dan sebotol air mineral. Padahal niatnya hanya tarik tunai aja. Ternyata ada orangnya di minimarket. Kirain gak ada orang karena ketiduran. Guman saya dalam hati.

***

Malam hari saya rebahan di dipan. Seharian naik bus rasanya memang melelahkan. Saya iseng scrolling beranda Twitter hingga menemukan satu video menarik yaitu video tentang sapi yang tiba-tiba masuk ke dalam sebuah restoran. Sapi tersebut benar-benar masuk restoran. Video ini bertambah lucu dengan tambahan backsound lagu susu nasional yang biasa dijual keliling.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Tweet video tersebut sudah ditonton sebanyak lebih dari 500 ribu kali dan diretweet sebanyak 21 ribu kali. Tampak sapi berwarna hitam tersebut dengan polosnya memasuki pintu restoran yang terbuat dari kaca. Sapi tersebut masuk hingga mendekati meja kasir di dalam restoran. Tampak dua orang perempuan yang sedang asyik makan langsung kaget dengan kedatangan seekor sapi tersebut. Secara naluri hewan, mungkin sapi tersebut mengira bahwa restoran tersebut adalah kandangnya. Sapi tersebut pun balik badan dan berjalan keluar restoran dengan meninggalkan tanda tanya besar bagi orang-orang di dalam restoran tersebut. Kelucuan adegan sapi berwarna hitam masuk restoran sebelum Idul Adha ini ditambah dengan kerecehan warga Twitter yang sibuk beramsumsi bahkan berimajinasi mengenai alasan mengapa sapi tersebut bisa sampai masuk restoran.

Seperti itulah kerecehan pada Idul Adha tahun ini. Sebenarnya masih banyak cerita yang bisa ditemukan di sosial media manapun. Semoga ada yang bisa diambil dari setiap kerecehan yang mengundang tawa segenap netizen di negara +62 ini. Sekian~

Resensi Buku Wirda Mansur, Remember Me and I Will Remember You

Resensi Buku Wirda Mansur, Remember Me and I Will Remember You

Biodata buku

Judul : Remember Me and I Will Remember You. Karena Allah bersama kita

Penulis : Wirda Mansur

Penerbit : Katadepan

Tahun terbit : Cetakan ketiga, April 2019

Tebal halaman : 285 halaman

Sekilas isi buku

Buku keempat Wirda Mansur berisi motivasi-motivasi yang ingin dibagikan oleh Wirda sendiri. Banyak hal positif yang Wirda bagikan pada buku keempatnya kali ini. Salah satunya adalah semangat untuk menghafalkan Al Quran. Al Quran dapat diraih bagi siapapun yang mau untuk menghafalkan.

Selain itu, dalam bukunya, Wirda memasukkan beberapa pertanyaan umum yang biasa digalaukan oleh kawula muda. Kemungkinan besar, pertanyaan-pertanyaan tersebut didapatkan Wirda dari beberapa sosial media miliknya seperti Instagram, email, dan lain-lain. Salah satu contoh pertanyaannya adalah tentang cita-cita yang diinginkan tapi terhalau oleh berbagai macam alasan sehingga lebih seringnya muncul kata “tapi” di setiap cita-cita. Wirda menjelaskan bahwa semua yang ada di dunia ini milik Allah. Kalau Allah sudah berkehendak, segala sesuatu pasti bisa terjadi. Wirda menularkan energi optimisme kepada pembacanya bahwa kita harus berani membesarkan impian. Jika bercita-cita ingin berkunjung ke luar negeri, minta ke Allah. Bumi ini milik siapa lagi kalau bukan Allah? Jika bercita-cita ingin kuliah di universitas ternama di dunia sekelas Oxford University, minta aja ke Allah. Oxford University adalah milik Allah. Kita harus yakin dengan Allah karena Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. Jadi kita harus yakin bahwa cita-cita pasti akan tercapai atas izin Allah. Intinya, Wirda mengajak kita agar tidak takut untuk bermimpi.

Pandangan pribadi

Menurut saya, buku ini sangat menarik untuk dibaca karena isinya yang menebarkan aura positif bagi pembacanya. Selain itu, desain tampilan tiap halaman yang berbeda membuat kita tidak bosan untuk membacanya. Saya pribadi ketika membaca buku ini hampir tidak bisa berhenti membalik halaman selanjutkan karena penasaran dengan desain tampilan pada halaman selanjutnya. Karena tampilan setiap halaman yang menarik, tak heran jika buku ini saya juluki story-able. Setiap quotes pada halaman bisa di foto dan diunggah ke sosial media sebagai story. Hehe.

Buku yang story-able

Jarum tak Kasat Mata

Jarum tak Kasat Mata

Kemarin pagi, jiwa-jiwa penakut seperti saya ini menonton film horor. Keinginan tersebut atas inisiatif saya sendiri yang akhir-akhir ini sedang menyukai Kisah Tanah Jawa dan seisinya. Setelah membaca kisah horor dari Mas Genta yang berjudul Keluarga Tak Kasat Mata di Kaskus, akhirnya saya penasaran untuk menonton filmnya. Kepo juga sih dengan kisah pertemuan 13 13 13 ini. Barangkali di film digambarkan dengan lebih jelas lagi daripada cerita versis Kaskus.

Saya dan beberapa orang teman menonton di kamar saya sendiri yang berisi tiga orang. Kami menonton dengan meletakkan laptop beralaskan meja lipat di atas kasur. Kami menonton dengan seksama terutama saya yang sedari tadi menutupi muka dengan selimut karena khawatir dengan jumpscare. Padahal waktu itu kami menonton pada pagi hari.

Selesai menonton film, kami sempat mondar-mandir sekitar kasur. Tiba-tiba saja saya berteriak kesakitan karena menginjak sesuatu di salah satu sudut kasur. Ternyata saya menginjak jarum yang tertanam di kasur. Kejadian ini tidak sekali dua kali terjadi.

Kasur yang saya injak waktu itu bukan kasur baru melainkan kasur warisan. Kami mendapatkan dari pemilik sebelumnya setelah negoisasi menukar kasur double menjadi single. Dulu ketika awal-awal pemakaian, kami bertiga selalu menjadi korban jarum yang tertanam di kasur tersebut karena tidak sengaja terinjak. Tapi ketika kami ingin mencari jarum tersebut, kami kesulitan untuk menemukannya. Kami sudah berusaha untuk menekan pelan-pelan kasur dengan tangan agar si jarum keluar, tapi si jarum tidak pernah menampakkan diri. Di samping itu, kami juga merasa ngeri-ngeri sedap untuk mencari jarum tersebut karena takut justru tangan kami yang terkena imbasnya.

Kami menyebutnya jarum tak kasat mata. Jarum yang tertanam di kasur kami dan jarum tersebut sengaja ditancapkan oleh pemilik kasur sebelumnya. Dari hasil ekspedisi yang kami lakukan, kami berhasil menemukan beberapa jarum yang tertanam di beberapa titik pada kasur dengan satu tipe jarum yang sama yaitu jarum pentul. Jarum pentul merupakan jenis jarum yang paling sering digunakan oleh perempuan untuk memakai kerudung segiempat terutama di kalangan pesantren sebagai pengganti peniti. Tak dapat dipungkiri jika jarum pentul pasti ditemukan di kamar perempuan berjilbab karena mereka selalu memilikinya.

Tapi masalahnya adalah mereka selalu menancapkan jarum pentul ke kasur. Bahkan mereka lupa untuk mencabutnya dari kasur. Teruntuk perempuan-perempuan yang memiliki kebiasaan seperti ini,

“Apa sih motivasi kalian untuk pasang jarum pentul di kasur?” Hal-hal yang sepele seperti ini bisa membahayakan orang lain yang bahkan sama sekali nggak tau lho. Rasanya sakit banget kalo kena jarum pentul yang tertanam di kasur. Hiks.

Saya sering menemukan teman-teman saya seperti ini di kalangan pesantren dengan fasilitas kasur dan saya tegur. Tapi mungkin kebiasaan perempuan seperti ini tidak melulu terjadi di pesantren. Intinya, perempuan-perempuan muda sekarang ada baiknya untuk menghilangkan kebiasaan membuat jarum tak kasat mata seperti ini karena jarum tak kasat mata benar-benar membahayakan.

Resensi Buku Kisah Tanah Jawa Kedua – Jagat Lelembut

Akhir-akhir ini, Javanica (sebutan bagi pengemar konten-konten Kisah Tanah Jawa) dimanjakan dengan terbitnya buku kedua dari Kisah Tanah Jawa yang berjudul Jagat Lelembut. Buku ini merupakan lanjutan dari buku pertama yang berjudul Kisah Tanah Jawa, The Lost Book. Sama dengan kakaknya (si buku pertama) yang masuk 10 top best seller penjualan, si adik (Jagat Lelembut) juga berhasil memasuki jajaran buku paling laris terjual dan kini memasuki cetakan kedua.

Sampul depan buku Kisah Tanah Jawa Jagat Lelembut

Buku Jagat Lelembut menceritakan kembali mengenai ekspedisi-ekspedisi yang telah dilakukan oleh tim Kisah Tanah Jawa terutama ketika telah menjalin interaksi dan komunikasi dengan berbagai sosok makhluk astral yang ada di lokasi ekspedisi. Buku juga mengungkapkan sejarah dari beberapa sosok astral baik yang fenomenal maupun yang jarang terdengar oleh masyarakat.

Lanjutkan membaca “Resensi Buku Kisah Tanah Jawa Kedua – Jagat Lelembut”